Kamis, 01 November 2012

Makna lagu jawa "Ojo Ngece"

Judul lagu yang dibawakan adalah "Ojo Ngece". Dalam Bahasa Indonesia berarti "Jangan Menghina". daya tarik dari lagu ini yaitu keindahan liriknya yang ditulis dengan disisipi parikan Jawa (pantun Jawa). Berikut lirik dan penjelasan yang diperoleh ketika mendengarkan lagu tersebut.

    Ojo ngece karo wong ora nduwe
    Rojo brono yen mati ora digowo
    Bebasan urip mung mampir ngombe
    Ngono kui jare bini sepuh kae


Bait ini mengandung maksud bahwa sebagai manusia yang memiliki rasa toleransi, janganlah menghina kepada orang yang tidak punya (serba kekurangan). Karena pada dasarnya keburukan/kejelekan seseorang itu ketika meninggal tidak akan dibawa sebagai amalan. Kita tentu tahu jika kehidupan di dunia hanya sementara, sedangkan di akhirat adalah kekal. Petuah tersebut seringkali kita dapati dari perkataan bijak orang tua kita, termasuk guru-guru kita. Maka dari itu, marilah kita bersama saling menghargai kepada semua orang, siapapun itu, seburuk apa pun mereka.

    Numpak sepur asep'e metu nduwur
    Tiwas ajur mumur yen awak ora diatur
    Nek numpak motor asep'e metu ngisor
    Urip neng alam ndonyo kudu sugih andhap asor


Bait ini mengajak kita untuk selalu menata diri, baik untuk diri sendiri maupun dalam pergaulan. Menata diri yang dimaksud adalah bisa menempatkan diri di mana pun kita berada. Ada saatnya kita menahan ego kita, tetapi ada juga saatnya kita melepas ego kita. Perasaan dan temperamen orang berbeda-beda, maka akan lebih baik jika kita saling pengertian (andhap asor). Ibaratnya jika kita ingin dihormati dan dimengerti orang lain, mulailah dari diri sendiri.

    Nek numpak becak asepe metu tengah
    Ojo ngguyu ngakak yen urip lagi kepenak
    Nek numpak andong asep e metu bokong
    Ojo banter-banter ngko mundak koyo grandong


Bait ini mengungkapkan makna kepada kita semua untuk tidak bersikap sombong ketika sedang mendapatkan kebahagiaan/nikmat. Berbagilah kepada mereka yang sedang ditimpa musibah/kekurangan. Janganlah menganggap remeh mereka yang memiliki keterbatasan. Bukankah kita hidup agar bisa diterima semua orang dan bukan jadi sosok yang ditakuti seperti 'grandong'?

    Dadi wong ojo rumongso biso
    Nanging uwong sing biso rumongso
    Wong sik becik sing keno kebecikane
    Mulo kui jarene simbahku dewe


Bait ini memberi pelajaran kepada kita sekalian bahwa jadilah manusia yang tidak sok tahu, tetapi berusaha untuk tahu sesuatu yang benar-benar tidak diketahui. Tentu seringkali kita mendapati kesan seseorang yang bertindak sok tahu, namun pada akhirnya dia membuat kesalahan yang fatal. Melihat itu semua, maka akan lebih baik jika kita bertindak baik dan jujur. Kebaikan dan kejujuran seseorang itulah yang akan membangun citra seseorang yang 'sok tahu' dan 'benar-benar tahu'.

    Rujak nanas pantes'e wadahi gelas
    Tiwas adem panas sik digagas ora waras
    Nek rujak dondong pantese wadahi lodong
    Ojo plenggang plenggong mengko mundak koyo grandong


Bait di atas mempunyai makna bahwa sebagai manusia yang bijak, janganlah kita plin plan dalam menilai suatu hal. Pikirkan baik-baik keputusan kita dengan memandang perasaan orang lain. Membuat orang lain tak enak hati bukanlah pilihan yang tepat jika kita masih benar-benar menggunakan akal sehat (waras). Orang yang plin plan disini diibaratkan seperti 'grandong' yang mempunyai penampilan serba tidak jelas.

    nek rujak mayit lalapane rumah sakit
    bingung golek duit ngurusi barang gejepit

Bait di atas merupakan bagian reff dari lagu 'Ojo Ngece' ini, memberikan nasehat kepada pendengar bahwa orang-orang yang tidak punya pekerjaan terpaksa harus menjual barang-barang bekas. Kita yang sudah mempunyai pekerjaan dengan gaji yang sedikit saja, terkadang lupa bersyukur. Lihatlah mereka yang masih belum diberi kesempatan untuk bekerja, yang mana harus menghidupi penghidupannya sekarang dan kelak.

    Dadio wong sing becik
    Ojo do sirik
    Opo opo marai mangkel
    Mengko, malah koe dadi nggrundel
    Tiwas ngalah malah podo ngeyel


Bait di atas memberi pelajaran kita semua agar selalu menjadi orang yang baik dan berprasangka baik. Pantang menjadi orang yang syirik dan membuat kesal orang lain, agar terhindar dari perasaan dengki dan dendam. Hidup pastilah tak akan nyaman jika perasaan kita terus menerus dibayangi kekecewaan. Ingat, semua pasti ada jalan keluarnya, selesaikan dengan perlahan-lahan dengan saling mengalah. Keterbukaan hati dan pikiran akan mencairkan hati yang bergejolak.

    Mulane kowe manuto wong tuo
    Ojo pisan pisan koe neko-neko
    Jaman saiki sithik-sithik metu ragat
    Urip'e ora tentrem malah kowe dadi jepat


Bait di atas berisi pembelajaran yang seringkali diberikan oleh orang tua kita. Selalu menurut kepada perkataan dan kehendak orang tua, menyikapi segalanya dengan bijak, serta tidak bertingkah yang dapat mengecewakan orang tua. Terlebih bagi kita yang statusnya masih menjadi anak asuh, dimana semua kebutuhannya orang tua kitalah yang menanggung. Semua membutuhkan modal yang diperoleh dari kerja keras orang tua. Jangan sampai hidup kita tidak bahagia hanya karena perbuatan konyol yang seharusnya tidak kita lakukan.

    Mulakno mulakno, rasah do ngeyel
    Tuwo-tuwo le ngandani angel
    Bola bali bola bali kowe nglarani ati
    Wong tuwomu kegowo ati
    Ngalor ngidul ngulon wetan
    Aku wis kenthir
    Ora iso mikir
    Kiwo kiwo
    Kluer kluer


Bait di atas sejatinya ditujukan untuk mereka yang sudah keterlaluan telah mengecewakan orang tuanya. Ingatlah, jika kita durhaka kepada orang tua, keburukannya akan kembali kepada kita sendiri. Orang tua tentu tidak akan terima jika anaknya melakukan perbuatan yang mencemari nama orang tuanya. Orang tua yang telah menghidupi, mendidik, dan mengayomi kita dari lahir hingga sekarang seakan tidak berguna. Padahal, seburuk apapun anak seseorang, orang tua pasti tak akan pernah melupakannya. Semua beban batin akan selalu ditanggung sehidup semati. Marilah kita perbaiki cara berpikir dan sikap kita dalam memahami perasaan orang tua kita.

Adegan Goro-goro belum berakhir. Setelah berbagai tembang disenandungkan dan banyolan penuh edukasi dilontarkan oleh para punakawan. Saatnya kita menyimak penuturan Ki Lurah Semar kepada ketiga anaknya, tentang sebuah nilai hidup, tentang sebuah ajaran kearifan, tentang ojo kagetan, ojo gumunan dan ojo dumeh.
Ojo kagetan, jangan gampang terkejut. Segala kejadian di alam dunia telah tercatat dalam skenario besar Tuhan Yang Maha Pencipta. Tidak mudah terkejut salah satunya dapat dimaknai sebagai sifat tawakkal pada kekuasaan Yang Maha Kuasa. Watak ojo kagetan mendidik kita untuk tidak berbesar kepala menyikapi keberhasilan, dan juga tidak putus asa menghadapi kegagalan. Sisi lain dari nilai ojo kagetan adalah mengimani takdir. Dengan selalu sadar bahwa semua kejadian adalah skenario Tuhan, ojo kagetan mendidik kita untuk tidak latah berandai-andai, ”ah… seandainya tadi demikian dan demikian”. Tidak gampang menuduh orang lain ”ah, ini pasti gara-gara si anu”. Tidak gampang mengutuk dan tidak takabur.
Ojo gumunan, jangan mudah takjub. Ini adalah sebuah ajaran untuk menyikapi peristiwa hidup dengan bijak, arif, jauh dari prasangka, mengambil sikap yang wajar sesuai dengan proporsinya, dan tidak berlebihan. Dalam dunia yang semakin rumit, banyak tipu daya yang bisa merugikan kita manusia. Sikap ojo gumunan mengingatkan kita untuk eling dan waspada. Banyak hal yang terlihat baik, terlihat manis, namun ternyata acapkali menjerumuskan manusia ke situasi yang bisa menghancurkan martabat. Jangan larut pada hal-hal yang terlihat indah, tetaplah mempertimbangkan kebenaran dan akal sehat.
Nilai kedua dari ojo gumunan adalah ajaran untuk menjauhi watak tamak, serakah dan menuruti hawa nafsu. Sifat-sifat buruk itu salah satunya dipicu oleh mudahnya manusia terhipnotis oleh bujuk rayu dunia. Seseorang yang gampang takjub, akan mudah terangsang pada hal-hal duniawi dan pada akhirnya muncul hasrat untuk memiliki, menguasai alias tamak dan serakah.
Sisi lain yang terpelihara oleh premis ojo gumunan ini adalah agar kita tidak menjadi orang yang gampang kecewa. Orang yang gampang takjub akan mudah terpengaruh, gampang diperdayai, gampang dijerumuskan. Pada akhirnya, ketika kenyataan tak sesuai harapan, orang yang gampang takjub akan merasa kecewa, bahkan bisa membenci sesuatu yang awalnya dikagumi.
Ojo dumeh, jangan mentang-mentang. Ini adalah pesan untuk selalu rendah hati, sabar dan mengendalikan diri. Masing-masing kita memiliki status, yang rawan menjebak kita pada situasi untuk merasa istimewa, merasa lebih hebat dari orang. Tak sedikit orang yang merasa berkuasa lalu timbul ambisi untuk memperkaya diri atau memperbudak orang lain. Ada orang yang merasa hebat lalu terbiasa meremehkan dan merendahkan orang lain.
Dunia kita adalah alam yang dinamis. Apapun bisa saja terjadi. Semesta ini adalah semesta yang senantiasa berputar. Sesuatu yang kemarin berada di bawah, hari ini mungkin berada di atas. Dan sebaliknya apa yang kemarin di atas bisa saja besok atau lusa terhampar di bawah. Hari ini boleh jadi terlihat hebat dan berkuasa, besok mungkin saja ia terhinakan oleh karena tindak perbuatannya. Jangan terlalu banyak tertawa ketika senang, jangan gampang mengutuk di kala susah.
Pada sisi lain. Hakikatnya tiada kemustahilan selama manusia berupaya dengan tawakkal dan sungguh-sungguh. Kita tak boleh menyerah pada keterbatasan. Sesuatu terkadang terlihat sulit, hanya karena kita belum mencobanya. Sesuatu terkadang terlihat menarik, padahal banyak tipu daya di belakangnya. Mari kita jalani hidup secara lebih arif, jangan mudah terkejut, jangan mudah takjub dan jangan mentang-mentang.

Minggu, 28 Oktober 2012

Perempuan dalam industri periklanan



A.    LATAR BELAKANG
Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia menceritakan beberapa nama perempuan yang disebutkan sebagai tokoh – tokoh perempuan yang ikut berjuang bersama rakyat dalam memperjuangkan dan merebut kemerdekaan kita dari tangan kolonialisme. R.A Kartini umumnya disebut-sebut sebagai tokoh perempuan pada zamannya, dan yang paling terkenal. Kartini (1897-1904) dinilai sebagai salah satu perintis kemerdekaan Indonesia, karena pemikirannya untuk melawan kolonialisme Belanda yang dianggapnya sebagai sumber penderitaan rakyat. Selama hidupnya, Kartini dikenal sebagai seorang tokoh yang berjuang memajukan kaum perempuan. Pemikiran Kartini banyak mengilhami gerakan perjuangan perempuan sesudahnya. Kartini mempunyai cita-cita untuk membebaskan perempuan dari keterbelakangan dan kemiskinan. Ia melihat pendidikan perempuan adalah jalan untuk pembebasan itu. Namun menurut Kartini, titik tolak kemerdekaan perempuan bukanlah dengan melihat perempuan sebagai sosok mandiri yang terpisah dari lingkungannya, melainkan sebagai pribadi yang terkait dengan kemajuan masyarakatnya. Kartini menulis: ''Kecerdasan pikiran penduduk bumiputera tidak akan maju pesat bila perempuan ketinggalan dalam usaha itu, yaitu perempuan jadi pembawa peradaban''. Hingga saat ini, Kartini menjadi simbol gerakan perempuan Indonesia dan hari lahirnya, 21 April selalu dirayakan oleh organisasi-organisasi perempuan dewasa ini.
Budaya konsumsi telah sukses membuat mesin industri berputar, tetapi sekaligus mengambil suatu korban yang menyedihkan dengan memperlemah ikatan keluarga dan masyarakat, penghapusan sub-kebudayaan regional dan etnik, pengingkaran partisipasi kerja dalam proses industri, serta memunculkan konsep psikologis tentang diri sendiri sebagai suatu ketidakmampuan.
Peran iklan semakin dominan seiring dengan tumbuhnya revolusi teknologi yang menampilkan teknologi sebagai kekuatan otonom terhadap manusia. Sebagai kekuatan otonom teknologi mempunyai kekuatan manipulatif terhadap alam dan kebutuhan manusia sekaligus mampu menggeser hubungan sosial dan kedudukan manusia itu sendiri. Kekuatan ini telah menjangkau manusia secara ekstensif dan mengubah pola budayanya secara intensif. Periklanan, sebagai pengejawantahan teknologi, telah menggeser hubungan sosial dan kedudukan manusia sehingga periklanan disebut sebagai alat dengan mana suatu teknologi yang tidak berperikemanusiaan menjangkau ke dalam ruang batin kesadaran manusia dan menghancurkan kebebasan.
Kritik terhadap iklan terus bergulir. Sementara itu bombardir dari teknik-teknik baru periklanan semakin menggebu-gebu. Periklanan sudah bukan lagi hanya dipandang sebagai preskripsi seni terapan yang cuma mengandalkan estetika, lebih dari itu suatu lembaga teknologi canggih yang didalamnya dilandasi oleh teori-teori dan hasil riset keilmuan terintegrasi untuk membentuk suatu budaya baru yang merusak sistem dan tatanan masyarakat beradab.
B.     DESKRIPSI KEADAAN
Keberadaan perempuan dalam iklan menjadi sebuah perdebatan yang tidak pernah henti ketika perempuan ditampilkan menjadi simbol-simbol untuk menciptakan citra tertentu. Perempuan dan tubuhnya tampil untuk menonjolkan kenikmatan minuman, kelincahan dan keanggunan mobil, kemewahan sebuah berlian, dan sebagainya. Bagi para praktisi periklanan, keberadaan perempuan dalam iklan adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Sementara bagi sebagian orang lainnya berpendapat bahwa menyertakan perempuan dalam iklan lebih merupakan eksploitasi atas tubuh perempuan. Melalui ekonomi politik tubuh, tanda dan hasrat, ekonomi kapitalis menja-dikan tubuh perempuan hanya potongan tanda-tanda yang satu per satu menjadi komoditas melalui media iklan. Meski demikian, banyak perempuan yang terlibat dalam iklan justru berpendapat bahwa tampilnya mereka dengan menonjolkan keindahan bagian-bagian tubuhnya merupakan sebuah pilihan yang otonom atas diri dan tubuhnya sendiri.
C.    TEORI YANG DIPAKAI
Dalam menganalisis permasalahan yang nampak dalam deskripsi keadaan penulis menggunakan cara pendekatan hukum berperspektif perempuan dengan aliran feminis yang mendominasi atau feminis radikal. Pendekatan ini mengusung perempuan sebagai suatu kesatuan kelas yang perlu mendapat suatu perlindungan dari berbagai macam ketidakadilandan kekerasan. Dengan pendekatan ini diharapkan dapat memunculkan suatu rekonstruksi hukum yang dapat mengakomodir kepentingan-kepentiangan perempuan.
D.    ANALISIS
Bicara perempuan dalam iklan bisa dilihat dari 3 posisi perempuan dalam industri periklanan. Pertama yaitu sebagai pelaku dalam industri periklanan atau yang bisa disebut sebagai praktisi, kedua sebagai pembawa pesan iklan melalui perannya sebagai model atau bintang iklan dan endorser, dan ketiga sebagai konsumen target market dari iklan itu sendiri. Fenomena penempatan peran perempuan yang tersubordinat seperti peran-peran klasik perempuan sebagai ornamen dekoratif dan daya tarik dalam latar eksploitasi sexisme telah mereduksi perempuan sebatas makhluk biologis semata. Dalam hal ini, daya tarik erotik lebih menonjolkan perempuan sebagai makhluk biologis daripada dimensi manusiawinya. Sebagai makhluk biologis perempuan adalah objek seks yang disediakan bagi lelaki, bahkan tak jarang (justru) dipuji oleh sesama perempuan sebagai model perempuan modern yang layak dijadikan acuan. Peran perempuan sebagai objek dekoratif dan alat pemikat dalam iklan seperti itu pada gilirannya akan membentuk suatu kebudayaan baru yang berideologikan konsumerisme dan hedonisme. Maka, jadilah iklan sebagai alat pembudayaan ‘perempuan citra’ dengan mereduksi perempuan ke dalam konstruksi pseudo-people yang memainkan peran-peran semu dalam suatu lingkung yang imitatif. Representasi dan repertoar iklan tidak lebih dari sekedar ilusi dan persuasi terapatis yang tidak merefleksikan realitas yang sesungguhnya. Sebagai alat pembudayaan, secara persuasif iklan menggambarkan, memprojeksikan, dan menstimulasi suatu dunia imaginer yang hiper-realistik.
Kapitalisme iklan sebagai sebuah sistem telah membentuk struktur di mana perempuan ditempatkan pada posisi yang lemah. Iklan telah melestarikan citra perempuan sebagai objek seks, makhluk yang underdeveloped, serta makhluk yang selalu diburu oleh berbagai kekuatiran rendah diri yang berlebihan. Oleh karena itu, iklan yang demikian merupakan penghambat dalam perkembangan peran perempuan. Daya tarik iklan bisa dicapai dengan tiga pendekatan yaitu moral, rasional, dan emosional. Dalam pendekatan moral daya tarik memanfaatkan bahasa moral seperti kebaikan, kejujuran, dan kebersamaan untuk menarik dan mengikat perhatian audience; pendekatan rasional memanfaatkan bahasa logika seperti keunggulan, manfaat, dan garansi; sedangkan pendekatan emosional lebih mengedepankan bahasa emosi seperti kenyamanan, kenikmatan, dan mimpi-mimpi. Pada ketiga pendekatan tersebut sosok perempuan dimodifikasi sesuai dengan citra produk yang dibangun. Namun, citra produk pada dasarnya memanfaatkan tubuh perempuan untuk membangkitkan daya tarik erotik terhadap produk tersebut.
Dewasa ini kecenderungan preskripsi iklan yang membikin heboh tampaknya semakin merebak. Salah satu alasan pembenarannya ialah iklan membutuhkan daya tarik agar dapat memikat perhatian audience. Maka, atas nama kompetisi memperebutkan perhatian audience tak jarang iklan terjebak dalam bad taste advertising. Sense of aesthetics digantikan oleh estetisisme.
Estetisisme ialah gaya hidup, utamanya diekspresikan oleh karya-karya seni dan desain, yang sifat-sifat estetisnya terpisah dari yang baik, sejati, dan kudus. Iklan yang estesis mengeksploitasi, mengikis-habis, menggunakan, dan mengekspresikan hidup karena keindahannya dengan mengorbankan nilai-nilai etika dan moral. Pada konteks citra perempuan dalam iklan, estetisisme utamanya memanipulasi tubuh perempuan dengan lebih mengedepankan peran seksualnya. Tubuh yang mestinya menjadi milik paling private dari seorang perempuan telah menjadi milik publik yang bisa dipertontonkan. Estetisisme telah mereduksi keperempuanan dengan melebih-lebihkan dan mendistorsikan diferensiasi seks, karakter manusia, dan penghargaan sosial.
Penampilan sosok perempuan dalam iklan biasanya dibutuhkan untuk memperkuat daya jual sebuah produk, bukan saja dalam menyampaikan sebuah pesan tetapi juga kesan terhadap produk tersebut. Di dalam kaidah perancangan iklan, produk harus dikesankan dengan daya tarik yang maksimal. Selain untuk memenangi perebutan persepsi audience dengan iklan kompetitor daya tarik juga difungsikan untuk memikat, mempengaruhi, dan membentuk opini audience. Untuk maksud tersebut produk tidak digambarkan sebagaimana adanya.
Hambatan perkembangan peran perempuan oleh iklan tersebut sebenarnya juga disebabkan oleh sikap perempuan sendiri. Realitas sosial dan budaya perempuan memang belumlah sebagaimana yang diharapkan. Perempuan dalam banyak kasus melonggarkan batas-batas moral dalam arena kompetisi di antara mereka sendiri. Sistem dan struktur yang kapitalistik yang membangun budaya konsumerisme dan hedonisme telah begitu kuat mempengaruhi masyarakat serta mendorong perempuan berkompetisi dalam arena sosial dengan mengharuskannya mengorbankan aura keperempuanannya. Arena sosial telah menjadi ajang subordinasi perempuan oleh laki-laki, tetapi juga ajang konflik antar perempuan.
E.     PENUTUP
Dari uraian di atas, tampak bahwa kapitalisme iklan tidak memberi ruang gerak cukup bagi perempuan sebagai subjek, bahkan telah mematikan perempuan sebagai subjek. Industri periklanan memanfaatkan dan mereduksi perempuan menjadi sekedar citra yang tunduk kepada ideologi dan kepentingan pasar. Kecenderungan yang demikian telah menjauhkan potret perempuan dari realitanya yang multidimensional – harkat dan martabatnya, karena yang dipresentasikan dari seorang perempuan hanyalah sebuah citra.
Media, termasuk di dalamnya iklan, pada dasarnya merupakan cermin dan refleksi dari masyarakat secara umum. Jika dalam masyarakat sikap perempuan masih ditandai oleh pelonggaran dan pelanggaran batas-batas moral dalam konteks kompetisi sesama perempuan serta ketergantungan pada dominasi pria, selama itu pula potret yang demikian masih akan dapat ditemukan pada iklan. Artinya, pemberdayaan perempuan dalam iklan utamanya sangat bergantung pada sikap perempuan sendiri. Sehubungan dengan itu, diperlukan langkah-langkah integral di bidang pemberdayaan perempuan dan ‘pengendalian’ iklan.
Pemberdayaan tersebut antara lain berupa gerakan penyadaran secara terus menerus dan berkelanjutan kepada perempuan agar tidak larut dalam proses pemapanan stereotipe yang merugikan perempuan. Perempuan perlu didorong untuk aktif mengawasi serta berani mengoreksi dan menggugat iklan yang melanggar hak-hak asasi perempuan. Di pihak lain, penegakan supremasi hukum perlu dilakukan secara tegas guna pengendalian iklan dari sifat dan potensinya yang luar biasa dalam menghancurkan kemanusiaan perempuan

Selasa, 16 Oktober 2012

Bentuk Bentuk Darah Manusia Saat Beda Suasana

pakar EFT mengambil sampel darah seorang pasien (Rebecca) kemudian memotretnya dengan menggunakan “darkfield microscope” yang dihubungkan dengan monitor komputer. Dan tampaklah perubahan drastis pada darah Rebecca tersebut setiap kali emosinya berubah. Berikut ini adalah foto darah seorang Rebecca sebelum dan sesudah melakukan EFT.

Quote:
Sebelum melakukan EFT
( sel darah merah menggumpal disebabkan oleh Lectin yang didapat dari alergi ayam & alpukat )
Sesudah melakukan EFT
( sel darah merah menjadi normal kembali )
Kemudian Rebecca melakukan EFT lagi dan mengundang emosi “sedih” dengan cara memikirkan saat-saat sedih sampai dia menangis, lalu sang pakar EFT ( Dr. Felicy) mengambil sampel darahnya lagi.

Quote:

Kondisi darah saat sedih ( sel darah begerak cepat dan berbentuk air mata )
Lalu Rebecca menggunakan EFT untuk mengundang energi “cinta” untuk memasuki tubuh dan darahnya. Dan seketika darahnya kembali normal, dan sel-sel darah bergerak dengan indah dan timbul substansi yang berkilauan dalam cairan darah.

Quote:

Kondisi darah saat merasakan cinta :
( sel darah bergerak pelan dan cenderung berkumpul )
Satu kenyataan menarik pada sampel darah saat “sedih” terjadi perubahan seperti pada sampel darah saat “merasakan cinta”. Jadi walaupun darah itu sudah meninggalkan tubuh Rebecca ia tetap masih berhubungan dengan pemiliknya.

Kemudian seorang Rebecca mengundang rasa takut dan memikirkan kejadian menakutkan yang pernah ia alami. Dan sel-sel dalam darahnya bergerak tidak beraturan dengan sangat cepat (ditunjukkan pada gambar dibawah dimana terlihat sel-sel darah saling berjatuhan). Mungkin ini adalah akibat dari produksi adrenalin sebagai reaksi normal atas rasa takut.

Quote:

Kondisi darah saat merasa takut
Lalu Rebecca mecoba untuk memikirkan “sifat feminine Tuhan”. Dalam keyakinan agamanya ia sebut “divine mother”, sifat penyayang, penyantun dan pemelihara ( dalam islam disebut sifat “Jamaliah” Allah). Dan memohon kepada-Nya untuk menyalurkan energi feminine itu kedalam tubuh dan darahnya. Saat berdoa tersebut, Rebecca merasakan seperti ini “saya merasakan gelombang energi yang begitu besarnya menyelimuti diri saya, saya sampai menangis bahagia karenanya”, begitu Rebecca tersebut menggambarkan pengalamannya.

Saat sampel darah Rebecca diambil setelah berdoa dan merasakan pengalaman religius itu, kemudian dilihatkan dibawah mikroskop yang dihubungkan dengan komputer, semua yang hadir dilaboratorium itu seketika terdiam dan terpana karena melihat komdisi darah yang sama sekali berbeda dengan yang lain, cairah darahnya sangat cerah, gerakan sel darah sangat tenang seakan bergerak dengan penuh kedamaian, muncul banyak substansi yang berkilauan. Di dalam sel darah terdapat substansi yang bercahaya dan berdenyut seperti denyutan jantung mini.

Quote:

Kondisi darah saat “berdo’a”
(timbul substansi putih berkilauan dan darah bergerak pelan dan sangat teratur) 

 sumber : kaskus.co.id