Judul lagu yang dibawakan adalah "Ojo Ngece". Dalam Bahasa Indonesia berarti "Jangan Menghina". daya tarik dari lagu ini yaitu keindahan liriknya yang ditulis dengan disisipi parikan Jawa (pantun Jawa). Berikut lirik dan penjelasan yang diperoleh ketika mendengarkan lagu tersebut.
Ojo ngece karo wong ora nduwe
Rojo brono yen mati ora digowo
Bebasan urip mung mampir ngombe
Ngono kui jare bini sepuh kae
Bait ini mengandung maksud bahwa sebagai manusia yang memiliki rasa toleransi, janganlah menghina kepada orang yang tidak punya (serba kekurangan). Karena pada dasarnya keburukan/kejelekan seseorang itu ketika meninggal tidak akan dibawa sebagai amalan. Kita tentu tahu jika kehidupan di dunia hanya sementara, sedangkan di akhirat adalah kekal. Petuah tersebut seringkali kita dapati dari perkataan bijak orang tua kita, termasuk guru-guru kita. Maka dari itu, marilah kita bersama saling menghargai kepada semua orang, siapapun itu, seburuk apa pun mereka.
Numpak sepur asep'e metu nduwur
Tiwas ajur mumur yen awak ora diatur
Nek numpak motor asep'e metu ngisor
Urip neng alam ndonyo kudu sugih andhap asor
Bait ini mengajak kita untuk selalu menata diri, baik untuk diri sendiri maupun dalam pergaulan. Menata diri yang dimaksud adalah bisa menempatkan diri di mana pun kita berada. Ada saatnya kita menahan ego kita, tetapi ada juga saatnya kita melepas ego kita. Perasaan dan temperamen orang berbeda-beda, maka akan lebih baik jika kita saling pengertian (andhap asor). Ibaratnya jika kita ingin dihormati dan dimengerti orang lain, mulailah dari diri sendiri.
Nek numpak becak asepe metu tengah
Ojo ngguyu ngakak yen urip lagi kepenak
Nek numpak andong asep e metu bokong
Ojo banter-banter ngko mundak koyo grandong
Bait ini mengungkapkan makna kepada kita semua untuk tidak bersikap sombong ketika sedang mendapatkan kebahagiaan/nikmat. Berbagilah kepada mereka yang sedang ditimpa musibah/kekurangan. Janganlah menganggap remeh mereka yang memiliki keterbatasan. Bukankah kita hidup agar bisa diterima semua orang dan bukan jadi sosok yang ditakuti seperti 'grandong'?
Dadi wong ojo rumongso biso
Nanging uwong sing biso rumongso
Wong sik becik sing keno kebecikane
Mulo kui jarene simbahku dewe
Bait ini memberi pelajaran kepada kita sekalian bahwa jadilah manusia yang tidak sok tahu, tetapi berusaha untuk tahu sesuatu yang benar-benar tidak diketahui. Tentu seringkali kita mendapati kesan seseorang yang bertindak sok tahu, namun pada akhirnya dia membuat kesalahan yang fatal. Melihat itu semua, maka akan lebih baik jika kita bertindak baik dan jujur. Kebaikan dan kejujuran seseorang itulah yang akan membangun citra seseorang yang 'sok tahu' dan 'benar-benar tahu'.
Rujak nanas pantes'e wadahi gelas
Tiwas adem panas sik digagas ora waras
Nek rujak dondong pantese wadahi lodong
Ojo plenggang plenggong mengko mundak koyo grandong
Bait di atas mempunyai makna bahwa sebagai manusia yang bijak, janganlah kita plin plan dalam menilai suatu hal. Pikirkan baik-baik keputusan kita dengan memandang perasaan orang lain. Membuat orang lain tak enak hati bukanlah pilihan yang tepat jika kita masih benar-benar menggunakan akal sehat (waras). Orang yang plin plan disini diibaratkan seperti 'grandong' yang mempunyai penampilan serba tidak jelas.
nek rujak mayit lalapane rumah sakit
bingung golek duit ngurusi barang gejepit
Bait di atas merupakan bagian reff dari lagu 'Ojo Ngece' ini, memberikan nasehat kepada pendengar bahwa orang-orang yang tidak punya pekerjaan terpaksa harus menjual barang-barang bekas. Kita yang sudah mempunyai pekerjaan dengan gaji yang sedikit saja, terkadang lupa bersyukur. Lihatlah mereka yang masih belum diberi kesempatan untuk bekerja, yang mana harus menghidupi penghidupannya sekarang dan kelak.
Dadio wong sing becik
Ojo do sirik
Opo opo marai mangkel
Mengko, malah koe dadi nggrundel
Tiwas ngalah malah podo ngeyel
Bait di atas memberi pelajaran kita semua agar selalu menjadi orang yang baik dan berprasangka baik. Pantang menjadi orang yang syirik dan membuat kesal orang lain, agar terhindar dari perasaan dengki dan dendam. Hidup pastilah tak akan nyaman jika perasaan kita terus menerus dibayangi kekecewaan. Ingat, semua pasti ada jalan keluarnya, selesaikan dengan perlahan-lahan dengan saling mengalah. Keterbukaan hati dan pikiran akan mencairkan hati yang bergejolak.
Mulane kowe manuto wong tuo
Ojo pisan pisan koe neko-neko
Jaman saiki sithik-sithik metu ragat
Urip'e ora tentrem malah kowe dadi jepat
Bait di atas berisi pembelajaran yang seringkali diberikan oleh orang tua kita. Selalu menurut kepada perkataan dan kehendak orang tua, menyikapi segalanya dengan bijak, serta tidak bertingkah yang dapat mengecewakan orang tua. Terlebih bagi kita yang statusnya masih menjadi anak asuh, dimana semua kebutuhannya orang tua kitalah yang menanggung. Semua membutuhkan modal yang diperoleh dari kerja keras orang tua. Jangan sampai hidup kita tidak bahagia hanya karena perbuatan konyol yang seharusnya tidak kita lakukan.
Mulakno mulakno, rasah do ngeyel
Tuwo-tuwo le ngandani angel
Bola bali bola bali kowe nglarani ati
Wong tuwomu kegowo ati
Ngalor ngidul ngulon wetan
Aku wis kenthir
Ora iso mikir
Kiwo kiwo
Kluer kluer
Bait di atas sejatinya ditujukan untuk mereka yang sudah keterlaluan telah mengecewakan orang tuanya. Ingatlah, jika kita durhaka kepada orang tua, keburukannya akan kembali kepada kita sendiri. Orang tua tentu tidak akan terima jika anaknya melakukan perbuatan yang mencemari nama orang tuanya. Orang tua yang telah menghidupi, mendidik, dan mengayomi kita dari lahir hingga sekarang seakan tidak berguna. Padahal, seburuk apapun anak seseorang, orang tua pasti tak akan pernah melupakannya. Semua beban batin akan selalu ditanggung sehidup semati. Marilah kita perbaiki cara berpikir dan sikap kita dalam memahami perasaan orang tua kita.
Adegan Goro-goro belum berakhir. Setelah berbagai tembang
disenandungkan dan banyolan penuh edukasi dilontarkan oleh para
punakawan. Saatnya kita menyimak penuturan Ki Lurah Semar kepada ketiga
anaknya, tentang sebuah nilai hidup, tentang sebuah ajaran kearifan,
tentang ojo kagetan, ojo gumunan dan ojo dumeh.
Ojo kagetan, jangan gampang terkejut. Segala kejadian di
alam dunia telah tercatat dalam skenario besar Tuhan Yang Maha Pencipta.
Tidak mudah terkejut salah satunya dapat dimaknai sebagai sifat
tawakkal pada kekuasaan Yang Maha Kuasa. Watak ojo kagetan
mendidik kita untuk tidak berbesar kepala menyikapi keberhasilan, dan
juga tidak putus asa menghadapi kegagalan. Sisi lain dari nilai ojo kagetan adalah mengimani takdir. Dengan selalu sadar bahwa semua kejadian adalah skenario Tuhan, ojo kagetan
mendidik kita untuk tidak latah berandai-andai, ”ah… seandainya tadi
demikian dan demikian”. Tidak gampang menuduh orang lain ”ah, ini pasti
gara-gara si anu”. Tidak gampang mengutuk dan tidak takabur.
Ojo gumunan, jangan mudah takjub. Ini adalah sebuah ajaran
untuk menyikapi peristiwa hidup dengan bijak, arif, jauh dari prasangka,
mengambil sikap yang wajar sesuai dengan proporsinya, dan tidak
berlebihan. Dalam dunia yang semakin rumit, banyak tipu daya yang bisa
merugikan kita manusia. Sikap ojo gumunan mengingatkan kita untuk eling
dan waspada. Banyak hal yang terlihat baik, terlihat manis, namun
ternyata acapkali menjerumuskan manusia ke situasi yang bisa
menghancurkan martabat. Jangan larut pada hal-hal yang terlihat indah,
tetaplah mempertimbangkan kebenaran dan akal sehat.
Nilai kedua dari ojo gumunan adalah ajaran untuk menjauhi
watak tamak, serakah dan menuruti hawa nafsu. Sifat-sifat buruk itu
salah satunya dipicu oleh mudahnya manusia terhipnotis oleh bujuk rayu
dunia. Seseorang yang gampang takjub, akan mudah terangsang pada hal-hal
duniawi dan pada akhirnya muncul hasrat untuk memiliki, menguasai alias
tamak dan serakah.
Sisi lain yang terpelihara oleh premis ojo gumunan ini
adalah agar kita tidak menjadi orang yang gampang kecewa. Orang yang
gampang takjub akan mudah terpengaruh, gampang diperdayai, gampang
dijerumuskan. Pada akhirnya, ketika kenyataan tak sesuai harapan, orang
yang gampang takjub akan merasa kecewa, bahkan bisa membenci sesuatu
yang awalnya dikagumi.
Ojo dumeh, jangan mentang-mentang. Ini adalah pesan untuk
selalu rendah hati, sabar dan mengendalikan diri. Masing-masing kita
memiliki status, yang rawan menjebak kita pada situasi untuk merasa
istimewa, merasa lebih hebat dari orang. Tak sedikit orang yang merasa
berkuasa lalu timbul ambisi untuk memperkaya diri atau memperbudak orang
lain. Ada orang yang merasa hebat lalu terbiasa meremehkan dan
merendahkan orang lain.
Dunia kita adalah alam yang dinamis. Apapun bisa saja terjadi.
Semesta ini adalah semesta yang senantiasa berputar. Sesuatu yang
kemarin berada di bawah, hari ini mungkin berada di atas. Dan sebaliknya
apa yang kemarin di atas bisa saja besok atau lusa terhampar di bawah.
Hari ini boleh jadi terlihat hebat dan berkuasa, besok mungkin saja ia
terhinakan oleh karena tindak perbuatannya. Jangan terlalu banyak
tertawa ketika senang, jangan gampang mengutuk di kala susah.
Pada sisi lain. Hakikatnya tiada kemustahilan selama manusia berupaya
dengan tawakkal dan sungguh-sungguh. Kita tak boleh menyerah pada
keterbatasan. Sesuatu terkadang terlihat sulit, hanya karena kita belum
mencobanya. Sesuatu terkadang terlihat menarik, padahal banyak tipu daya
di belakangnya. Mari kita jalani hidup secara lebih arif, jangan mudah
terkejut, jangan mudah takjub dan jangan mentang-mentang.
cah kedha biseka gawe berita
Kamis, 01 November 2012
Minggu, 28 Oktober 2012
Perempuan dalam industri periklanan
A. LATAR BELAKANG
Sejarah
perjuangan kemerdekaan Indonesia menceritakan beberapa nama perempuan yang
disebutkan sebagai tokoh – tokoh perempuan yang ikut berjuang bersama rakyat
dalam memperjuangkan dan merebut kemerdekaan kita dari tangan kolonialisme. R.A
Kartini umumnya disebut-sebut sebagai tokoh perempuan pada zamannya, dan yang
paling terkenal. Kartini (1897-1904) dinilai sebagai salah satu perintis
kemerdekaan Indonesia, karena pemikirannya untuk melawan kolonialisme Belanda
yang dianggapnya sebagai sumber penderitaan rakyat. Selama hidupnya, Kartini
dikenal sebagai seorang tokoh yang berjuang memajukan kaum perempuan. Pemikiran
Kartini banyak mengilhami gerakan perjuangan perempuan sesudahnya. Kartini
mempunyai cita-cita untuk membebaskan perempuan dari keterbelakangan dan
kemiskinan. Ia melihat pendidikan perempuan adalah jalan untuk pembebasan itu.
Namun menurut Kartini, titik tolak kemerdekaan perempuan bukanlah dengan
melihat perempuan sebagai sosok mandiri yang terpisah dari lingkungannya,
melainkan sebagai pribadi yang terkait dengan kemajuan masyarakatnya. Kartini
menulis: ''Kecerdasan pikiran penduduk
bumiputera tidak akan maju pesat bila perempuan ketinggalan dalam usaha itu,
yaitu perempuan jadi pembawa peradaban''. Hingga saat ini, Kartini menjadi
simbol gerakan perempuan Indonesia dan hari lahirnya, 21 April selalu dirayakan
oleh organisasi-organisasi perempuan dewasa ini.
Budaya
konsumsi telah sukses membuat mesin industri berputar, tetapi sekaligus mengambil
suatu korban yang menyedihkan dengan memperlemah ikatan keluarga dan
masyarakat, penghapusan sub-kebudayaan regional dan etnik, pengingkaran
partisipasi kerja dalam proses industri, serta memunculkan konsep psikologis
tentang diri sendiri sebagai suatu ketidakmampuan.
Peran
iklan semakin dominan seiring dengan tumbuhnya revolusi teknologi yang menampilkan
teknologi sebagai kekuatan otonom terhadap manusia. Sebagai kekuatan otonom
teknologi mempunyai kekuatan manipulatif terhadap alam dan kebutuhan manusia
sekaligus mampu menggeser hubungan sosial dan kedudukan manusia itu sendiri.
Kekuatan ini telah menjangkau manusia secara ekstensif dan mengubah pola budayanya
secara intensif. Periklanan, sebagai pengejawantahan teknologi, telah menggeser
hubungan sosial dan kedudukan manusia sehingga periklanan disebut sebagai alat
dengan mana suatu teknologi yang tidak berperikemanusiaan menjangkau ke dalam
ruang batin kesadaran manusia dan menghancurkan kebebasan.
Kritik
terhadap iklan terus bergulir. Sementara itu bombardir dari teknik-teknik baru
periklanan semakin menggebu-gebu. Periklanan sudah bukan lagi hanya dipandang
sebagai preskripsi seni terapan yang cuma mengandalkan estetika, lebih dari itu
suatu lembaga teknologi canggih yang didalamnya dilandasi oleh teori-teori dan
hasil riset keilmuan terintegrasi untuk membentuk suatu budaya baru yang
merusak sistem dan tatanan masyarakat beradab.
B.
DESKRIPSI
KEADAAN
Keberadaan
perempuan dalam iklan menjadi sebuah perdebatan yang tidak pernah henti ketika perempuan
ditampilkan menjadi simbol-simbol untuk menciptakan citra tertentu. Perempuan
dan tubuhnya tampil untuk menonjolkan kenikmatan minuman, kelincahan dan
keanggunan mobil, kemewahan sebuah berlian, dan sebagainya. Bagi para praktisi
periklanan, keberadaan perempuan dalam iklan adalah sesuatu yang tak
terhindarkan. Sementara bagi sebagian orang lainnya berpendapat bahwa menyertakan
perempuan dalam iklan lebih merupakan eksploitasi atas tubuh perempuan. Melalui
ekonomi politik tubuh, tanda dan hasrat, ekonomi kapitalis menja-dikan tubuh
perempuan hanya potongan tanda-tanda yang satu per satu menjadi komoditas
melalui media iklan. Meski demikian, banyak perempuan yang terlibat dalam iklan
justru berpendapat bahwa tampilnya mereka dengan menonjolkan keindahan
bagian-bagian tubuhnya merupakan sebuah pilihan yang otonom atas diri dan
tubuhnya sendiri.
C.
TEORI
YANG DIPAKAI
Dalam
menganalisis permasalahan yang nampak dalam deskripsi keadaan penulis
menggunakan cara pendekatan hukum berperspektif perempuan dengan aliran feminis
yang mendominasi atau feminis radikal. Pendekatan ini mengusung perempuan
sebagai suatu kesatuan kelas yang perlu mendapat suatu perlindungan dari
berbagai macam ketidakadilandan kekerasan. Dengan pendekatan ini diharapkan
dapat memunculkan suatu rekonstruksi hukum yang dapat mengakomodir
kepentingan-kepentiangan perempuan.
D.
ANALISIS
Bicara
perempuan dalam iklan bisa dilihat dari 3 posisi perempuan dalam industri
periklanan. Pertama yaitu sebagai pelaku dalam industri periklanan atau yang
bisa disebut sebagai praktisi, kedua sebagai pembawa pesan iklan melalui
perannya sebagai model atau bintang iklan dan endorser, dan ketiga sebagai
konsumen target market dari iklan itu sendiri. Fenomena penempatan peran
perempuan yang tersubordinat seperti peran-peran klasik perempuan sebagai
ornamen dekoratif dan daya tarik dalam latar eksploitasi sexisme telah
mereduksi perempuan sebatas makhluk biologis semata. Dalam hal ini, daya tarik
erotik lebih menonjolkan perempuan sebagai makhluk biologis daripada dimensi
manusiawinya. Sebagai makhluk biologis perempuan adalah objek seks yang
disediakan bagi lelaki, bahkan tak jarang (justru) dipuji oleh sesama perempuan
sebagai model perempuan modern yang layak dijadikan acuan. Peran perempuan
sebagai objek dekoratif dan alat pemikat dalam iklan seperti itu pada
gilirannya akan membentuk suatu kebudayaan baru yang berideologikan
konsumerisme dan hedonisme. Maka, jadilah iklan sebagai alat pembudayaan
‘perempuan citra’ dengan mereduksi perempuan ke dalam konstruksi pseudo-people
yang memainkan peran-peran semu dalam suatu lingkung yang imitatif.
Representasi dan repertoar iklan tidak lebih dari sekedar ilusi dan persuasi
terapatis yang tidak merefleksikan realitas yang sesungguhnya. Sebagai alat
pembudayaan, secara persuasif iklan menggambarkan, memprojeksikan, dan
menstimulasi suatu dunia imaginer yang hiper-realistik.
Kapitalisme
iklan sebagai sebuah sistem telah membentuk struktur di mana perempuan
ditempatkan pada posisi yang lemah. Iklan telah melestarikan citra perempuan
sebagai objek seks, makhluk yang underdeveloped, serta makhluk yang selalu
diburu oleh berbagai kekuatiran rendah diri yang berlebihan. Oleh karena itu,
iklan yang demikian merupakan penghambat dalam perkembangan peran perempuan. Daya
tarik iklan bisa dicapai dengan tiga pendekatan yaitu moral, rasional, dan
emosional. Dalam pendekatan moral daya tarik memanfaatkan bahasa moral seperti
kebaikan, kejujuran, dan kebersamaan untuk menarik dan mengikat perhatian
audience; pendekatan rasional memanfaatkan bahasa logika seperti keunggulan,
manfaat, dan garansi; sedangkan pendekatan emosional lebih mengedepankan bahasa
emosi seperti kenyamanan, kenikmatan, dan mimpi-mimpi. Pada ketiga pendekatan
tersebut sosok perempuan dimodifikasi sesuai dengan citra produk yang dibangun.
Namun, citra produk pada dasarnya memanfaatkan tubuh perempuan untuk
membangkitkan daya tarik erotik terhadap produk tersebut.
Dewasa
ini kecenderungan preskripsi iklan yang membikin heboh tampaknya semakin merebak.
Salah satu alasan pembenarannya ialah iklan membutuhkan daya tarik agar dapat
memikat perhatian audience. Maka, atas nama kompetisi memperebutkan perhatian
audience tak jarang iklan terjebak dalam bad
taste advertising. Sense of
aesthetics digantikan oleh estetisisme.
Estetisisme
ialah gaya hidup, utamanya diekspresikan oleh karya-karya seni dan desain, yang
sifat-sifat estetisnya terpisah dari yang baik, sejati, dan kudus. Iklan yang
estesis mengeksploitasi, mengikis-habis, menggunakan, dan mengekspresikan hidup
karena keindahannya dengan mengorbankan nilai-nilai etika dan moral. Pada
konteks citra perempuan dalam iklan, estetisisme utamanya memanipulasi tubuh
perempuan dengan lebih mengedepankan peran seksualnya. Tubuh yang mestinya
menjadi milik paling private dari seorang perempuan telah menjadi milik publik
yang bisa dipertontonkan. Estetisisme telah mereduksi keperempuanan dengan
melebih-lebihkan dan mendistorsikan diferensiasi seks, karakter manusia, dan
penghargaan sosial.
Penampilan
sosok perempuan dalam iklan biasanya dibutuhkan untuk memperkuat daya jual
sebuah produk, bukan saja dalam menyampaikan sebuah pesan tetapi juga kesan
terhadap produk tersebut. Di dalam kaidah perancangan iklan, produk harus
dikesankan dengan daya tarik yang maksimal. Selain untuk memenangi perebutan
persepsi audience dengan iklan kompetitor daya tarik juga difungsikan untuk
memikat, mempengaruhi, dan membentuk opini audience. Untuk maksud tersebut
produk tidak digambarkan sebagaimana adanya.
Hambatan
perkembangan peran perempuan oleh iklan tersebut sebenarnya juga disebabkan
oleh sikap perempuan sendiri. Realitas sosial dan budaya perempuan memang
belumlah sebagaimana yang diharapkan. Perempuan dalam banyak kasus melonggarkan
batas-batas moral dalam arena kompetisi di antara mereka sendiri. Sistem dan
struktur yang kapitalistik yang membangun budaya konsumerisme dan hedonisme
telah begitu kuat mempengaruhi masyarakat serta mendorong perempuan
berkompetisi dalam arena sosial dengan mengharuskannya mengorbankan aura
keperempuanannya. Arena sosial telah menjadi ajang subordinasi perempuan oleh
laki-laki, tetapi juga ajang konflik antar perempuan.
E.
PENUTUP
Dari
uraian di atas, tampak bahwa kapitalisme iklan tidak memberi ruang gerak cukup
bagi perempuan sebagai subjek, bahkan telah mematikan perempuan sebagai subjek.
Industri periklanan memanfaatkan dan mereduksi perempuan menjadi sekedar citra
yang tunduk kepada ideologi dan kepentingan pasar. Kecenderungan yang demikian
telah menjauhkan potret perempuan dari realitanya yang multidimensional –
harkat dan martabatnya, karena yang dipresentasikan dari seorang perempuan
hanyalah sebuah citra.
Media,
termasuk di dalamnya iklan, pada dasarnya merupakan cermin dan refleksi dari
masyarakat secara umum. Jika dalam masyarakat sikap perempuan masih ditandai oleh
pelonggaran dan pelanggaran batas-batas moral dalam konteks kompetisi sesama perempuan
serta ketergantungan pada dominasi pria, selama itu pula potret yang demikian
masih akan dapat ditemukan pada iklan. Artinya, pemberdayaan perempuan dalam
iklan utamanya sangat bergantung pada sikap perempuan sendiri. Sehubungan dengan
itu, diperlukan langkah-langkah integral di bidang pemberdayaan perempuan dan ‘pengendalian’
iklan.
Pemberdayaan
tersebut antara lain berupa gerakan penyadaran secara terus menerus dan
berkelanjutan kepada perempuan agar tidak larut dalam proses pemapanan stereotipe
yang merugikan perempuan. Perempuan perlu didorong untuk aktif mengawasi serta
berani mengoreksi dan menggugat iklan yang melanggar hak-hak asasi perempuan. Di
pihak lain, penegakan supremasi hukum perlu dilakukan secara tegas guna pengendalian
iklan dari sifat dan potensinya yang luar biasa dalam menghancurkan kemanusiaan
perempuan
Selasa, 16 Oktober 2012
Bentuk Bentuk Darah Manusia Saat Beda Suasana
pakar EFT mengambil sampel darah
seorang pasien (Rebecca) kemudian memotretnya dengan menggunakan
“darkfield microscope” yang dihubungkan dengan monitor komputer. Dan
tampaklah perubahan drastis pada darah Rebecca tersebut setiap kali
emosinya berubah. Berikut ini adalah foto darah seorang Rebecca sebelum
dan sesudah melakukan EFT.
Kemudian Rebecca melakukan EFT lagi dan mengundang emosi “sedih”
dengan cara memikirkan saat-saat sedih sampai dia menangis, lalu sang
pakar EFT ( Dr. Felicy) mengambil sampel darahnya lagi.
Lalu Rebecca menggunakan EFT untuk mengundang energi “cinta” untuk
memasuki tubuh dan darahnya. Dan seketika darahnya kembali normal, dan
sel-sel darah bergerak dengan indah dan timbul substansi yang berkilauan
dalam cairan darah.
Satu kenyataan menarik pada sampel darah saat “sedih” terjadi
perubahan seperti pada sampel darah saat “merasakan cinta”. Jadi
walaupun darah itu sudah meninggalkan tubuh Rebecca ia tetap masih
berhubungan dengan pemiliknya.
Kemudian seorang Rebecca mengundang rasa takut dan memikirkan kejadian menakutkan yang pernah ia alami. Dan sel-sel dalam darahnya bergerak tidak beraturan dengan sangat cepat (ditunjukkan pada gambar dibawah dimana terlihat sel-sel darah saling berjatuhan). Mungkin ini adalah akibat dari produksi adrenalin sebagai reaksi normal atas rasa takut.
Lalu Rebecca mecoba untuk memikirkan “sifat feminine Tuhan”. Dalam
keyakinan agamanya ia sebut “divine mother”, sifat penyayang, penyantun
dan pemelihara ( dalam islam disebut sifat “Jamaliah” Allah). Dan
memohon kepada-Nya untuk menyalurkan energi feminine itu kedalam tubuh
dan darahnya. Saat berdoa tersebut, Rebecca merasakan seperti ini “saya
merasakan gelombang energi yang begitu besarnya menyelimuti diri saya,
saya sampai menangis bahagia karenanya”, begitu Rebecca tersebut
menggambarkan pengalamannya.
Saat sampel darah Rebecca diambil setelah berdoa dan merasakan pengalaman religius itu, kemudian dilihatkan dibawah mikroskop yang dihubungkan dengan komputer, semua yang hadir dilaboratorium itu seketika terdiam dan terpana karena melihat komdisi darah yang sama sekali berbeda dengan yang lain, cairah darahnya sangat cerah, gerakan sel darah sangat tenang seakan bergerak dengan penuh kedamaian, muncul banyak substansi yang berkilauan. Di dalam sel darah terdapat substansi yang bercahaya dan berdenyut seperti denyutan jantung mini.
Quote:
Sebelum melakukan EFT ( sel darah merah menggumpal disebabkan oleh Lectin yang didapat dari alergi ayam & alpukat ) Sesudah melakukan EFT ( sel darah merah menjadi normal kembali ) |
Quote:
![]() Kondisi darah saat sedih ( sel darah begerak cepat dan berbentuk air mata ) |
Quote:
![]() Kondisi darah saat merasakan cinta : ( sel darah bergerak pelan dan cenderung berkumpul ) |
Kemudian seorang Rebecca mengundang rasa takut dan memikirkan kejadian menakutkan yang pernah ia alami. Dan sel-sel dalam darahnya bergerak tidak beraturan dengan sangat cepat (ditunjukkan pada gambar dibawah dimana terlihat sel-sel darah saling berjatuhan). Mungkin ini adalah akibat dari produksi adrenalin sebagai reaksi normal atas rasa takut.
Quote:
![]() Kondisi darah saat merasa takut |
Saat sampel darah Rebecca diambil setelah berdoa dan merasakan pengalaman religius itu, kemudian dilihatkan dibawah mikroskop yang dihubungkan dengan komputer, semua yang hadir dilaboratorium itu seketika terdiam dan terpana karena melihat komdisi darah yang sama sekali berbeda dengan yang lain, cairah darahnya sangat cerah, gerakan sel darah sangat tenang seakan bergerak dengan penuh kedamaian, muncul banyak substansi yang berkilauan. Di dalam sel darah terdapat substansi yang bercahaya dan berdenyut seperti denyutan jantung mini.
Quote:
![]() Kondisi darah saat “berdo’a” (timbul substansi putih berkilauan dan darah bergerak pelan dan sangat teratur) |
sumber : kaskus.co.id |
Langganan:
Postingan (Atom)