Minggu, 28 Oktober 2012

Perempuan dalam industri periklanan



A.    LATAR BELAKANG
Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia menceritakan beberapa nama perempuan yang disebutkan sebagai tokoh – tokoh perempuan yang ikut berjuang bersama rakyat dalam memperjuangkan dan merebut kemerdekaan kita dari tangan kolonialisme. R.A Kartini umumnya disebut-sebut sebagai tokoh perempuan pada zamannya, dan yang paling terkenal. Kartini (1897-1904) dinilai sebagai salah satu perintis kemerdekaan Indonesia, karena pemikirannya untuk melawan kolonialisme Belanda yang dianggapnya sebagai sumber penderitaan rakyat. Selama hidupnya, Kartini dikenal sebagai seorang tokoh yang berjuang memajukan kaum perempuan. Pemikiran Kartini banyak mengilhami gerakan perjuangan perempuan sesudahnya. Kartini mempunyai cita-cita untuk membebaskan perempuan dari keterbelakangan dan kemiskinan. Ia melihat pendidikan perempuan adalah jalan untuk pembebasan itu. Namun menurut Kartini, titik tolak kemerdekaan perempuan bukanlah dengan melihat perempuan sebagai sosok mandiri yang terpisah dari lingkungannya, melainkan sebagai pribadi yang terkait dengan kemajuan masyarakatnya. Kartini menulis: ''Kecerdasan pikiran penduduk bumiputera tidak akan maju pesat bila perempuan ketinggalan dalam usaha itu, yaitu perempuan jadi pembawa peradaban''. Hingga saat ini, Kartini menjadi simbol gerakan perempuan Indonesia dan hari lahirnya, 21 April selalu dirayakan oleh organisasi-organisasi perempuan dewasa ini.
Budaya konsumsi telah sukses membuat mesin industri berputar, tetapi sekaligus mengambil suatu korban yang menyedihkan dengan memperlemah ikatan keluarga dan masyarakat, penghapusan sub-kebudayaan regional dan etnik, pengingkaran partisipasi kerja dalam proses industri, serta memunculkan konsep psikologis tentang diri sendiri sebagai suatu ketidakmampuan.
Peran iklan semakin dominan seiring dengan tumbuhnya revolusi teknologi yang menampilkan teknologi sebagai kekuatan otonom terhadap manusia. Sebagai kekuatan otonom teknologi mempunyai kekuatan manipulatif terhadap alam dan kebutuhan manusia sekaligus mampu menggeser hubungan sosial dan kedudukan manusia itu sendiri. Kekuatan ini telah menjangkau manusia secara ekstensif dan mengubah pola budayanya secara intensif. Periklanan, sebagai pengejawantahan teknologi, telah menggeser hubungan sosial dan kedudukan manusia sehingga periklanan disebut sebagai alat dengan mana suatu teknologi yang tidak berperikemanusiaan menjangkau ke dalam ruang batin kesadaran manusia dan menghancurkan kebebasan.
Kritik terhadap iklan terus bergulir. Sementara itu bombardir dari teknik-teknik baru periklanan semakin menggebu-gebu. Periklanan sudah bukan lagi hanya dipandang sebagai preskripsi seni terapan yang cuma mengandalkan estetika, lebih dari itu suatu lembaga teknologi canggih yang didalamnya dilandasi oleh teori-teori dan hasil riset keilmuan terintegrasi untuk membentuk suatu budaya baru yang merusak sistem dan tatanan masyarakat beradab.
B.     DESKRIPSI KEADAAN
Keberadaan perempuan dalam iklan menjadi sebuah perdebatan yang tidak pernah henti ketika perempuan ditampilkan menjadi simbol-simbol untuk menciptakan citra tertentu. Perempuan dan tubuhnya tampil untuk menonjolkan kenikmatan minuman, kelincahan dan keanggunan mobil, kemewahan sebuah berlian, dan sebagainya. Bagi para praktisi periklanan, keberadaan perempuan dalam iklan adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Sementara bagi sebagian orang lainnya berpendapat bahwa menyertakan perempuan dalam iklan lebih merupakan eksploitasi atas tubuh perempuan. Melalui ekonomi politik tubuh, tanda dan hasrat, ekonomi kapitalis menja-dikan tubuh perempuan hanya potongan tanda-tanda yang satu per satu menjadi komoditas melalui media iklan. Meski demikian, banyak perempuan yang terlibat dalam iklan justru berpendapat bahwa tampilnya mereka dengan menonjolkan keindahan bagian-bagian tubuhnya merupakan sebuah pilihan yang otonom atas diri dan tubuhnya sendiri.
C.    TEORI YANG DIPAKAI
Dalam menganalisis permasalahan yang nampak dalam deskripsi keadaan penulis menggunakan cara pendekatan hukum berperspektif perempuan dengan aliran feminis yang mendominasi atau feminis radikal. Pendekatan ini mengusung perempuan sebagai suatu kesatuan kelas yang perlu mendapat suatu perlindungan dari berbagai macam ketidakadilandan kekerasan. Dengan pendekatan ini diharapkan dapat memunculkan suatu rekonstruksi hukum yang dapat mengakomodir kepentingan-kepentiangan perempuan.
D.    ANALISIS
Bicara perempuan dalam iklan bisa dilihat dari 3 posisi perempuan dalam industri periklanan. Pertama yaitu sebagai pelaku dalam industri periklanan atau yang bisa disebut sebagai praktisi, kedua sebagai pembawa pesan iklan melalui perannya sebagai model atau bintang iklan dan endorser, dan ketiga sebagai konsumen target market dari iklan itu sendiri. Fenomena penempatan peran perempuan yang tersubordinat seperti peran-peran klasik perempuan sebagai ornamen dekoratif dan daya tarik dalam latar eksploitasi sexisme telah mereduksi perempuan sebatas makhluk biologis semata. Dalam hal ini, daya tarik erotik lebih menonjolkan perempuan sebagai makhluk biologis daripada dimensi manusiawinya. Sebagai makhluk biologis perempuan adalah objek seks yang disediakan bagi lelaki, bahkan tak jarang (justru) dipuji oleh sesama perempuan sebagai model perempuan modern yang layak dijadikan acuan. Peran perempuan sebagai objek dekoratif dan alat pemikat dalam iklan seperti itu pada gilirannya akan membentuk suatu kebudayaan baru yang berideologikan konsumerisme dan hedonisme. Maka, jadilah iklan sebagai alat pembudayaan ‘perempuan citra’ dengan mereduksi perempuan ke dalam konstruksi pseudo-people yang memainkan peran-peran semu dalam suatu lingkung yang imitatif. Representasi dan repertoar iklan tidak lebih dari sekedar ilusi dan persuasi terapatis yang tidak merefleksikan realitas yang sesungguhnya. Sebagai alat pembudayaan, secara persuasif iklan menggambarkan, memprojeksikan, dan menstimulasi suatu dunia imaginer yang hiper-realistik.
Kapitalisme iklan sebagai sebuah sistem telah membentuk struktur di mana perempuan ditempatkan pada posisi yang lemah. Iklan telah melestarikan citra perempuan sebagai objek seks, makhluk yang underdeveloped, serta makhluk yang selalu diburu oleh berbagai kekuatiran rendah diri yang berlebihan. Oleh karena itu, iklan yang demikian merupakan penghambat dalam perkembangan peran perempuan. Daya tarik iklan bisa dicapai dengan tiga pendekatan yaitu moral, rasional, dan emosional. Dalam pendekatan moral daya tarik memanfaatkan bahasa moral seperti kebaikan, kejujuran, dan kebersamaan untuk menarik dan mengikat perhatian audience; pendekatan rasional memanfaatkan bahasa logika seperti keunggulan, manfaat, dan garansi; sedangkan pendekatan emosional lebih mengedepankan bahasa emosi seperti kenyamanan, kenikmatan, dan mimpi-mimpi. Pada ketiga pendekatan tersebut sosok perempuan dimodifikasi sesuai dengan citra produk yang dibangun. Namun, citra produk pada dasarnya memanfaatkan tubuh perempuan untuk membangkitkan daya tarik erotik terhadap produk tersebut.
Dewasa ini kecenderungan preskripsi iklan yang membikin heboh tampaknya semakin merebak. Salah satu alasan pembenarannya ialah iklan membutuhkan daya tarik agar dapat memikat perhatian audience. Maka, atas nama kompetisi memperebutkan perhatian audience tak jarang iklan terjebak dalam bad taste advertising. Sense of aesthetics digantikan oleh estetisisme.
Estetisisme ialah gaya hidup, utamanya diekspresikan oleh karya-karya seni dan desain, yang sifat-sifat estetisnya terpisah dari yang baik, sejati, dan kudus. Iklan yang estesis mengeksploitasi, mengikis-habis, menggunakan, dan mengekspresikan hidup karena keindahannya dengan mengorbankan nilai-nilai etika dan moral. Pada konteks citra perempuan dalam iklan, estetisisme utamanya memanipulasi tubuh perempuan dengan lebih mengedepankan peran seksualnya. Tubuh yang mestinya menjadi milik paling private dari seorang perempuan telah menjadi milik publik yang bisa dipertontonkan. Estetisisme telah mereduksi keperempuanan dengan melebih-lebihkan dan mendistorsikan diferensiasi seks, karakter manusia, dan penghargaan sosial.
Penampilan sosok perempuan dalam iklan biasanya dibutuhkan untuk memperkuat daya jual sebuah produk, bukan saja dalam menyampaikan sebuah pesan tetapi juga kesan terhadap produk tersebut. Di dalam kaidah perancangan iklan, produk harus dikesankan dengan daya tarik yang maksimal. Selain untuk memenangi perebutan persepsi audience dengan iklan kompetitor daya tarik juga difungsikan untuk memikat, mempengaruhi, dan membentuk opini audience. Untuk maksud tersebut produk tidak digambarkan sebagaimana adanya.
Hambatan perkembangan peran perempuan oleh iklan tersebut sebenarnya juga disebabkan oleh sikap perempuan sendiri. Realitas sosial dan budaya perempuan memang belumlah sebagaimana yang diharapkan. Perempuan dalam banyak kasus melonggarkan batas-batas moral dalam arena kompetisi di antara mereka sendiri. Sistem dan struktur yang kapitalistik yang membangun budaya konsumerisme dan hedonisme telah begitu kuat mempengaruhi masyarakat serta mendorong perempuan berkompetisi dalam arena sosial dengan mengharuskannya mengorbankan aura keperempuanannya. Arena sosial telah menjadi ajang subordinasi perempuan oleh laki-laki, tetapi juga ajang konflik antar perempuan.
E.     PENUTUP
Dari uraian di atas, tampak bahwa kapitalisme iklan tidak memberi ruang gerak cukup bagi perempuan sebagai subjek, bahkan telah mematikan perempuan sebagai subjek. Industri periklanan memanfaatkan dan mereduksi perempuan menjadi sekedar citra yang tunduk kepada ideologi dan kepentingan pasar. Kecenderungan yang demikian telah menjauhkan potret perempuan dari realitanya yang multidimensional – harkat dan martabatnya, karena yang dipresentasikan dari seorang perempuan hanyalah sebuah citra.
Media, termasuk di dalamnya iklan, pada dasarnya merupakan cermin dan refleksi dari masyarakat secara umum. Jika dalam masyarakat sikap perempuan masih ditandai oleh pelonggaran dan pelanggaran batas-batas moral dalam konteks kompetisi sesama perempuan serta ketergantungan pada dominasi pria, selama itu pula potret yang demikian masih akan dapat ditemukan pada iklan. Artinya, pemberdayaan perempuan dalam iklan utamanya sangat bergantung pada sikap perempuan sendiri. Sehubungan dengan itu, diperlukan langkah-langkah integral di bidang pemberdayaan perempuan dan ‘pengendalian’ iklan.
Pemberdayaan tersebut antara lain berupa gerakan penyadaran secara terus menerus dan berkelanjutan kepada perempuan agar tidak larut dalam proses pemapanan stereotipe yang merugikan perempuan. Perempuan perlu didorong untuk aktif mengawasi serta berani mengoreksi dan menggugat iklan yang melanggar hak-hak asasi perempuan. Di pihak lain, penegakan supremasi hukum perlu dilakukan secara tegas guna pengendalian iklan dari sifat dan potensinya yang luar biasa dalam menghancurkan kemanusiaan perempuan

Selasa, 16 Oktober 2012

Bentuk Bentuk Darah Manusia Saat Beda Suasana

pakar EFT mengambil sampel darah seorang pasien (Rebecca) kemudian memotretnya dengan menggunakan “darkfield microscope” yang dihubungkan dengan monitor komputer. Dan tampaklah perubahan drastis pada darah Rebecca tersebut setiap kali emosinya berubah. Berikut ini adalah foto darah seorang Rebecca sebelum dan sesudah melakukan EFT.

Quote:
Sebelum melakukan EFT
( sel darah merah menggumpal disebabkan oleh Lectin yang didapat dari alergi ayam & alpukat )
Sesudah melakukan EFT
( sel darah merah menjadi normal kembali )
Kemudian Rebecca melakukan EFT lagi dan mengundang emosi “sedih” dengan cara memikirkan saat-saat sedih sampai dia menangis, lalu sang pakar EFT ( Dr. Felicy) mengambil sampel darahnya lagi.

Quote:

Kondisi darah saat sedih ( sel darah begerak cepat dan berbentuk air mata )
Lalu Rebecca menggunakan EFT untuk mengundang energi “cinta” untuk memasuki tubuh dan darahnya. Dan seketika darahnya kembali normal, dan sel-sel darah bergerak dengan indah dan timbul substansi yang berkilauan dalam cairan darah.

Quote:

Kondisi darah saat merasakan cinta :
( sel darah bergerak pelan dan cenderung berkumpul )
Satu kenyataan menarik pada sampel darah saat “sedih” terjadi perubahan seperti pada sampel darah saat “merasakan cinta”. Jadi walaupun darah itu sudah meninggalkan tubuh Rebecca ia tetap masih berhubungan dengan pemiliknya.

Kemudian seorang Rebecca mengundang rasa takut dan memikirkan kejadian menakutkan yang pernah ia alami. Dan sel-sel dalam darahnya bergerak tidak beraturan dengan sangat cepat (ditunjukkan pada gambar dibawah dimana terlihat sel-sel darah saling berjatuhan). Mungkin ini adalah akibat dari produksi adrenalin sebagai reaksi normal atas rasa takut.

Quote:

Kondisi darah saat merasa takut
Lalu Rebecca mecoba untuk memikirkan “sifat feminine Tuhan”. Dalam keyakinan agamanya ia sebut “divine mother”, sifat penyayang, penyantun dan pemelihara ( dalam islam disebut sifat “Jamaliah” Allah). Dan memohon kepada-Nya untuk menyalurkan energi feminine itu kedalam tubuh dan darahnya. Saat berdoa tersebut, Rebecca merasakan seperti ini “saya merasakan gelombang energi yang begitu besarnya menyelimuti diri saya, saya sampai menangis bahagia karenanya”, begitu Rebecca tersebut menggambarkan pengalamannya.

Saat sampel darah Rebecca diambil setelah berdoa dan merasakan pengalaman religius itu, kemudian dilihatkan dibawah mikroskop yang dihubungkan dengan komputer, semua yang hadir dilaboratorium itu seketika terdiam dan terpana karena melihat komdisi darah yang sama sekali berbeda dengan yang lain, cairah darahnya sangat cerah, gerakan sel darah sangat tenang seakan bergerak dengan penuh kedamaian, muncul banyak substansi yang berkilauan. Di dalam sel darah terdapat substansi yang bercahaya dan berdenyut seperti denyutan jantung mini.

Quote:

Kondisi darah saat “berdo’a”
(timbul substansi putih berkilauan dan darah bergerak pelan dan sangat teratur) 

 sumber : kaskus.co.id